Sepak Bola Dan Politik Negara
Yang muda cuman bisa jadi penonton, berteriak bersama namun tidak berpengaruh pada hasil. Bertindak anarkis dengan sesama suporter atau dengan suporter lawan. Yang tua tidak mengingat umur, menendang bola kegawang sendiri. Pura-pura pikun setelah berbuat kesalahan. Para penegak kebenaran hanya bisa menjadi wasit di lapangan, menghukum apa yang mereka lihat dan memberantas yang dianggap merugikan. Tanpa ada tindakan lanjut yang jelas. Pemimpin Negara hanya bisa menjadi pelatih. menunjuk dan berteriak mengatur strategi, yang tidak sesuai dengan rencana. Tanpa melakukan apa-apa dalam perjalanan pertandingan.
Inilah realita keadaan Negara kita
Senin, 30 September 2013
Rabu, 11 September 2013
Polisi Kami
Sebab Dan Segelintir Kekecewaan
VIVAnews - Seorang warga mengaku dilecehkan saat membuat laporan ke polisi. Itu dialami Djubin warga Tanjung Duren, Jakarta Barat.
Menurut salah satu
kerabat Djubin, Vivi, kejadian berawal ketika puluhan pemuda yang
membawa batu mendatangi rumah Djubin di Jalan Raya Anyar Utara nomor 54
Wijaya Kusuma, Tanjung Duren, sekitar pukul 21.00 WIB Selasa malam tadi.
Mengetahui hal itu, Vivi langsung berinisiatif menelepon ke Posek Tanjung Duren untuk meminta perlindungan. Tidak lama kemudian datang beberapa personel ke lokasi.
Mengetahui hal itu, Vivi langsung berinisiatif menelepon ke Posek Tanjung Duren untuk meminta perlindungan. Tidak lama kemudian datang beberapa personel ke lokasi.
"Namun karena jumlahnya
sedikit, polisi tak sanggup menghalau aksi pemuda itu," kata Vivi, Rabu,
11 September 2013. Ruman Djubin pun rusak akibat dilempar batu.
Tidak lama kemudian, Djubin mendatangi Mapolsek Tanjung Duren untuk membuat laporan tertulis. Ironisnya, kata Vivi, petugas Polsek tidak mau menerima laporan tersebut karena menganggap kerusakan di rumah Djubin tidak parah.
Tidak lama kemudian, Djubin mendatangi Mapolsek Tanjung Duren untuk membuat laporan tertulis. Ironisnya, kata Vivi, petugas Polsek tidak mau menerima laporan tersebut karena menganggap kerusakan di rumah Djubin tidak parah.
"Polisi itu malah kasih
uang Rp50 ribu ke Djubin," ucapnya. Vivi kecewa dengan apa yang
dilakukan petugas itu. Tidak sepatutnya itu dilakukan oleh polisi yang
bertugas sebagai pelindung dan pengayom masyarakat.
"Kami merasa dilecehkan," katanya.
Kata Vivi, laporan itu
dibuat untuk mengadukan adanya teror dan ancaman keselamatan, bukan soal
kerusakan. "Untuk apa kami mengemis ke polisi," ujar dia.
Saat dikonfimasi, Kapolsek Tanjung Duren, Komisaris Polisi Firman Andreanto, mengaku tidak mengetahui kejadian itu. Tapi dia berjanji akan menindaklanjutinya. "Saya akan komunikasi dengan pihak keluarga Vivi," kata Firman saat dihubungi VIVAnews. (eh)
Saat dikonfimasi, Kapolsek Tanjung Duren, Komisaris Polisi Firman Andreanto, mengaku tidak mengetahui kejadian itu. Tapi dia berjanji akan menindaklanjutinya. "Saya akan komunikasi dengan pihak keluarga Vivi," kata Firman saat dihubungi VIVAnews. (eh)
Akibat Yang Harus Di Selesaikan
Tony Sudibyo, Pengamat Masalah Strategis Indonesia, mengatakan
walaupun kepolisian belum memastikan aksi penembakan ini dikaitkan
dengan kelompok teroris tertentu, namun penilaian umum yang berkembang
di masyarakat menilai aksi ini kemungkinan ada kaitannya dengan aksi
pemberantasan terorisme.
Sebab, sebelumnya sudah banyak pernyataan sikap yang menuntut POLRI
khususnya Densus 88 untuk lebih manusiawi dan humanis dalam menangani
kasus teror, bukan dengan cara-cara seperti ini yang juga dinilai
organisasi penggiat HAM telah masuk pelanggaran HAM,” ujarnya dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (17/8/2013).
Menurut Tony, strategi dan taktik kelompok teror dibagi dalam
beberapa tahap yaitu sabotase, gerilya, teror dan open rebellion atau
perang kota.
Sabotase, gerilya dan teror dilakukan kelompok teroris jika
organisasi dan jumlah mereka tidak kuat, sedangkan jika mereka sudah
berani melakukan open rebellion atau perang kota, mengindikasikan
organisasi, konsolidasi dan kekuatan mereka sudah bertambah kuat,
sehingga berani “head to head war” dengan aparat negara.
Jika ini yang terjadi, kasus penembakan terhadap anggota kepolisian
harus segera diselesaikan dan dicegah sedini mungkin dengan langkah
koordinasi dan sinkronisasi gerakan antara intelijen, TNI dan Densus 88
Anti Teror Mabes POLRI.
"Karena kemungkinan besar kelompok pelaku sebelumnya sudah mempunyai
rekam jejak dalam melakukan kekerasan menggunakan senjata api," katanya.
Analisa Rakyat
- Pada kenyataannya semua telah mewajari permasalahan yang terjadi pada tubuh POLISI saat ini. Rakyat diam bukan berarti tidak mengerti. Seakan kekurangan dan kekecewaan antara rakyat dan pihak yang berwajib itu di anggap lumrah.
- Rakyat seakan kelaparan rasa aman dan nyaman, sehingga mungkin saja berfikir bahwa. Dari pada mati kelaparan dalam keadaan tersiksa lebih baik melakukan hal yang mereka mau.
- Tidak ada satupun rakyat yang membenci KEPOLISIAN, hanya saja rakyat terlanjur kecewa. seakan tidak ada lagi kehidupan yang layak, terkecuali para pemilik harta dan tahta.
- Ada banyak individu pada anggota POLISI yang benar-benar tidak memikirkan kepuasan pribadinya saja, tetapi banyak pula sebaliknya.
Solusi Rakyat Untuk POLISI
- Penuhi Keinginan Rakyat : Sebenarnya cukup simpel sekali. Rakyat hanya perlu kerja nyata dan bukti tentang kebenaran yang sebenar-benarnya. Jujur itu memang sulit dan pastinya jarang ada yang menguntungkan pihak yang jujur. Tetapi kejujuran yang disertai fakta maka akan menimbulkan kepercayaan dan kewibawaan.
- Membersihkan Nama : Kenali diri, pahami diri, dan benahi diri. POLISI adalah suatu wujud besar dari sekumpulan manusia. Jikalau individu pada anggota POLISI sudah bisa mengenali apa itu POLISI, memahami siapa itu POLISI, barulah bisa membenahi KEPOLISIAN secara menyeluruh.
- Sadari Dari Mana Asal : POLISI adalah sekumpulan rakyat, yang di bentuk oleh rakyat untuk rakyat. Rusaknya kepribadian dan jiwa POLISI, maka rusak pula kepribadian dan jiwa rakyat.
*Semua ini menjadi pelajaran penting bagi kita Rakyat Indonesia untuk selanjutnya dan seterusnya.
Langganan:
Komentar (Atom)

